Just watch and enjoy. Forza Inter.
Semua orang tahu apa itu upacara. Bagi anak sekolahan, juga gurunya, kegiatan itu merupakan hal yang rutin dilakukan setiap minggunya. kebanyakan di hari Senin, tapi terkadang di hari lain jika ada hari-hari penting lainya, misal Hari Pendidikan Nasional.
Sama seperti di sekolah lain, sekolahku tentu saja melakukannya juga. Tiap kelas mendapat giliran untuk menjadi petugas, paling tidak satu kali dalam satu semester. Sebagai wali kelas, tugasku adalah mengatur siapa-siapa yang harus bertugas ketika upacara. Secara rutin, sejak pertama menjadi wali kelas, aku memilih anak-anak yang akan menjadi petugas.
Berbeda dengan kebanyakan, aku selalu menunjuk dua tim, satu untuk semester satu dan satu untuk semester dua, yang berbeda. Tim pertama adalah anak-anak yang sudah terbiasa tampil di depan, entah itu sebagai petugas upacara atau anggota paskibraka. Regu yang pertama inilah, karena sudah terbiasa, aku harapkan nantinya akan membimbing regu yang kedua. Tim yang terakhir terdiri dari anak-anak yang tidak pernah berperan sebagai petugas upacara, dan terutama yang pendiam dan tak berani tampil. Tahun kemarin pun itu aku lakukan.
Semua itu aku lakukan karena aku percaya semua anak bisa menjadi petugas. kalaupun mereka tidak pernah, tak berarti mereka tak mampu. mereka hanya belum mendapatkan kepercayaan saja. Bahkan terkadang mereka ingin bertugas, tapi malah guru tidak percaya ke mereka. Entah mungkin karena secara fisik tidak sesuai, atau disebabkan mereka dianggap anak yang nakal sehingga tak seharusnya dipilih.
Sering kali itulah yang terjadi. anak tidak terpilih karena mereka tidak dipercaya. Sesunggungnya percaya itu tak perlu bukti. Entah itu dia nakal, pendek, atau apapun juga, jika guru percaya maka anak akan bertugas sebaik-baiknya.
Sering kali kita melihat anak yang ditunjuk untuk ikut lomba hanyalah anak yang itu-itu saja. Apa benar anak lain tidak ada yang bisa? Apa benar semuanya lebih buruk? Tentu tidak. Banyak yang sama baiknya, bahkan mungkin ada yang lebih baik lagi. Yang menjadi pembeda mereka hanyalah bahwa satu dipercaya sedang lainnya tidak. Itu saja.
Jika anak-anak itu dipercaya, aku yakin mereka akan menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Bisa saja mereka lebih hebat dari anak-anak yang sudah terbiasa. Kalaupun tidak, semua tetap banyak manfaatnya. Ketika mereka yang biasanya tak berani tampil di depan dan selalu gugup tapi akhirnya mampu ada di hadapan orang banyak, maka merekalah pemenang sesungguhnya.
Menjadi petugas upacara bagi anak yang terbiasa tampil bukanlah hal yang sulit, tapi bagi anak yang maju ke depan kelas saja sudah gugup, maka hal itu adalah hal yang luar biasa. Bagaimana bisa sesuatu yang gampang lebih hebat dari yang sulit. Tentu saja yang hebat adalah anak-anak yang tak terbiasa tapi sudah berani tampil.
Bagaimana menurutmu?
Sama seperti di sekolah lain, sekolahku tentu saja melakukannya juga. Tiap kelas mendapat giliran untuk menjadi petugas, paling tidak satu kali dalam satu semester. Sebagai wali kelas, tugasku adalah mengatur siapa-siapa yang harus bertugas ketika upacara. Secara rutin, sejak pertama menjadi wali kelas, aku memilih anak-anak yang akan menjadi petugas.
![]() |
| Foto dari http://www.kemendagri.go.id/media/article/images/2015/07/23/u/p/upacara_bendera_1.jpg |
Berbeda dengan kebanyakan, aku selalu menunjuk dua tim, satu untuk semester satu dan satu untuk semester dua, yang berbeda. Tim pertama adalah anak-anak yang sudah terbiasa tampil di depan, entah itu sebagai petugas upacara atau anggota paskibraka. Regu yang pertama inilah, karena sudah terbiasa, aku harapkan nantinya akan membimbing regu yang kedua. Tim yang terakhir terdiri dari anak-anak yang tidak pernah berperan sebagai petugas upacara, dan terutama yang pendiam dan tak berani tampil. Tahun kemarin pun itu aku lakukan.
Semua itu aku lakukan karena aku percaya semua anak bisa menjadi petugas. kalaupun mereka tidak pernah, tak berarti mereka tak mampu. mereka hanya belum mendapatkan kepercayaan saja. Bahkan terkadang mereka ingin bertugas, tapi malah guru tidak percaya ke mereka. Entah mungkin karena secara fisik tidak sesuai, atau disebabkan mereka dianggap anak yang nakal sehingga tak seharusnya dipilih.
Sering kali itulah yang terjadi. anak tidak terpilih karena mereka tidak dipercaya. Sesunggungnya percaya itu tak perlu bukti. Entah itu dia nakal, pendek, atau apapun juga, jika guru percaya maka anak akan bertugas sebaik-baiknya.
Sering kali kita melihat anak yang ditunjuk untuk ikut lomba hanyalah anak yang itu-itu saja. Apa benar anak lain tidak ada yang bisa? Apa benar semuanya lebih buruk? Tentu tidak. Banyak yang sama baiknya, bahkan mungkin ada yang lebih baik lagi. Yang menjadi pembeda mereka hanyalah bahwa satu dipercaya sedang lainnya tidak. Itu saja.
Jika anak-anak itu dipercaya, aku yakin mereka akan menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Bisa saja mereka lebih hebat dari anak-anak yang sudah terbiasa. Kalaupun tidak, semua tetap banyak manfaatnya. Ketika mereka yang biasanya tak berani tampil di depan dan selalu gugup tapi akhirnya mampu ada di hadapan orang banyak, maka merekalah pemenang sesungguhnya.
Menjadi petugas upacara bagi anak yang terbiasa tampil bukanlah hal yang sulit, tapi bagi anak yang maju ke depan kelas saja sudah gugup, maka hal itu adalah hal yang luar biasa. Bagaimana bisa sesuatu yang gampang lebih hebat dari yang sulit. Tentu saja yang hebat adalah anak-anak yang tak terbiasa tapi sudah berani tampil.
Bagaimana menurutmu?
>Seorang Professor Filsafat sedang berbicara dengan mahasiswanya tentang hubungan Ilmu dengan Tuhan. Dia meminta salah satu mahasiswanya untuk berdiri dan kemudian Professor itupun bertanya,...
Professor : Apakah kamu beragama, nak?
Mahasiswa : Iya, pak.
Professor : Jadi, kamu percaya adanya Tuhan?
Mahasiswa : Tentu saja, pak.
Professor : Apakah Tuhan baik?
Mahasiswa : Pasti, pak.
Professor : Apakah Tuhan Maha Segalanya?
Mahasiswa : Iya, pak.
Professor : Saudaraku meninggal karena kanker walau dia berdoa kepada Tuhan untuk menyembuhkannya. Kebanyakan dari kita akan mencoba untuk menyembuhkan seseorang yang sedang sakit, membantu yang kesulitan. Tapi Tuhan tidak. Bagaimana hal yang seperti itu bisa disebut baik?
(Semua mahasiswa diam)
Professor : Kamu tidak bisa menjawab kan? Ayo kita lanjutkan lagi, anak muda. Apakah Tuhan baik?
Mahasiswa : Iya.
Professor : Apakah setan baik?
Mahasiswa : Tidak.
Professor : Siapa yang menciptakan setan?
Mahasiswa : Mmm...Tuhan...
Professor : Benar sekali. Coba jawab aku, nak, apakah ada kejahatan di dunia ini?
Mahasiswa : Iya.
Professor : Kejahatan ada dimana-mana, bukan? Dan Tuhan tidak melakukan apapun, kan?
Mahasiswa : Iya.
Professor : Jadi siapa yang menciptakan kejahatan?
(Semua mahasiswa tidak menjawab)
Professor : Apakah di dunia ini ada penyakit? Kebencian? Keburukan? Kebejatan? Semua hal yang buruk ada di dunia ini.
Mahasiswa : Iya, pak.
Professor : Jadi, siapa yang menciptakan mereka semua?
(Mahasiswa tidak menjawab)
Professor : Ilmu menjelaskan bahwa kita mempunyai lima indera untuk mengenali dan mengamati dunia di sekitar kita. Beri tahu aku, nak, apakah kamu pernah melihat Tuhan?
Mahasiswa : Tidak pernah, pak.
Professor : Apakah kamu pernah mendengar Tuhan?
Mahasiswa : Tidak, pak.
Professor : Apakah kamu pernah menyentuh Tuhan, merasakan Tuhanmu, mencium bau Tuhanmu? Apakah kelima inderamu pernah merasakannya?
Mahasiswa : Tidak, pak. Sayangnya belum pernah.
Professor : Meskipun begitu kamu masih percaya pada-Nya?
Mahasiswa : Iya, pak.
Professor : Menurut metode penelitian ilmiah yang empiris, dapat diuji, dan dibuktikan, Ilmu menyatakan bahwa Tuhan itu tidak ada. Bagaimana menurutmu, nak?
Mahasiswa : Saya hanya percaya, pak.
Professor : Iya, percaya. Itulah masalahnya.
Mahasiswa : Professor, apakah ada hal yang disebut panas?
Professor : Iya.
Mahasiswa : Apakah ada hal yang disebut dingin?
Professor : Iya.
Mahasiswa : Tidak, pak. Tidak ada.
(Ruang kuliah menjadi sangat sunyi)
Mahasiswa : Pak, kita bisa merasakan panas, kurang panas, atau sangat panas. Tapi kita tidak mengenal adanya dingin. Kita bisa berada dalam suhu 485 derajat di bawah nol yang disebut keadaan tanpa adanya panas.
Tidak ada hal yang bernama dingin. Dingin hanyalah kata yang digunakan untuk menggambarkan keadaan dimana tidak ada panas. Kita tidak bisa mengukur dingin. Panas adalah energi. Dingin bukanlah kebalikan dari panas, tapi hanyalah keadaan dimana tidak ada panas.
(Kelas benar-benar menjadi sunyi senyap)
Mahasiswa : Bagaimana dengan gelap, Professor? Apakah ada hal yang disebut gelap?
Professor : Iya. Jika malam kan gelap.
Mahasiswa : Anda salah lagi, pak. Gelap adalah satu keadaan dimana tidaka ada cahaya. Kita bisa melihat cahaya yang terang, yang redup, yang berkedip-kedip, tapi jika kita tidak melihat cahaya secara terus-menerus, maka itu disebut gelap. Kita tidak bisa membuat gelap menjadi semakin gelap kan, pak?
Professor : Jadi apa maksudmu, anak muda?
Mahasiswa : Pak, maksudku adalah bahwa pernyataan anda lemah.
Professor : Lemah? Bisakah kamu jelaskan?
Mahasiswa : Pak, anda menyatakan tentang dualisme. Anda menyatakan bahwa ada hidup dan mati. Ada Tuhan baik ada Tuhan jahat. Anda melihat Tuhan sebagai sesuatu yang jelas, sesuatu yang bisa kita ukur.
Pak, ilmu tidak bisa menjelaskan tentang pikiran. Untuk mengetahui tentang pikiran ilmu menggunakan energi listrik dan magnetik, tapi tak pernah benar-benar melihatnya dan memahaminya.
Melihat kematian sebagai sesuatu yang merupakan kebalikan dari kehidupan adalah hal yang ceroboh. Kematian bukanlah kebalikan dari kehidupan, tapi hanya suatu keadaan dimana tidak ada kehidupan. Sekarang saya ingin bertanya, Prof. Apakah anda mengajar mahasiswa anda bahwa mereka adalah keturunan kera?
Professor : Jika kamu merujuk pada teori evolusi, iya, tentu saja.
Mahasiswa : Apakah anda pernah melihat evolusi dengan mata anda sendiri, pak?
(Professor menggelengkan kepala, mulai menyadari kemana argumen itu akan mengarah)
Mahasiswa : Karena anda tidak melihat sendiri proses evolusi dan bahkan tidak bisa membuktikan bahwa proses evolusi terus berlanjut, bukankah anda menyalahkan sendiri ajaran anda?
Anda ilmuwan atau pemuka agama?
(Seisi kelas langsung bergemuruh)
Mahasiswa : Apakah ada seseorang di kelas ini yang pernah melihat Otak milik Professor?
(Seisi ruangan langsung riuh dengan tawa)
Mahasiswa : Apakah ada seseorang di kelas ini yang pernah mendengar otak milik Professor, menyentuhnya, merasakannya, mencium baunya?
Tak seorangpun pernah melakukannya. Jadi, menurut metode penelitian ilmiah yang empiris, dapat diuji, dan dibuktikan, Ilmu menyatakan anda tidak punya otak, pak.
Dengan segala hormat saya pak, jika memang demikian, bagaimana kami bisa percaya kuliah bapak?
(Ruang kelas hening. Sang Professor memandang mahasiswanya. Raut mukanya sungguh tak bisa digambarkan)
Professor : Saya rasa kamu hanya harus percaya, nak.
Mahasiswa : Iya...tepat, pak! Hubungan antara manusia dengan Tuhan adalah kepercayaan.
____________________________________________________________________
Mahasiswa itu adalah Albert Einstein.
Jadi, gimana menurut kalian? Terkadang kita bilang bahwa seseorang itu tidak bisa dipercaya. Kita bilang hal itu karena tindakannya memang tidak bisa dipercaya.
Mungkin kalian curiga dengan pacar kalian karena dia terlihat akrab dengan orang lain, karena dia boncengan, atau karena hal lainnya. Kita bilang kita tidak percaya ke dia karena dia seperti itu.
Sesungguhnya, kepercayaan itu tak perlu bukti. Kita percaya oksigen itu ada, meski kita sebenarnya tidak tahu warnanya, rasanya, atau baunya. Apa kita harus membuka batok kepala seseorang, melihat otak itu, memegang, merasakannya, atau membauinya baru kita akan percaya? Tentu saja tidak. Kita percaya bahwa seseorang punya otak meski kita tidak pernah melihatnya.
Kepercayaan memang terkadang sulit. Tapi harus belajar untuk mempercayai seseorang atau sesuatu bahkan ketika tidak ada bukti. Kita harus percaya diri kita hebat, teman kita hebat (dan juga baik), bukan karena ada buktinya, tapi hanya karena percaya.
Petikan dialog dari anonymous
Professor : Apakah kamu beragama, nak?
Mahasiswa : Iya, pak.
Professor : Jadi, kamu percaya adanya Tuhan?
Mahasiswa : Tentu saja, pak.
Professor : Apakah Tuhan baik?
Mahasiswa : Pasti, pak.
Professor : Apakah Tuhan Maha Segalanya?
Mahasiswa : Iya, pak.
Professor : Saudaraku meninggal karena kanker walau dia berdoa kepada Tuhan untuk menyembuhkannya. Kebanyakan dari kita akan mencoba untuk menyembuhkan seseorang yang sedang sakit, membantu yang kesulitan. Tapi Tuhan tidak. Bagaimana hal yang seperti itu bisa disebut baik?
(Semua mahasiswa diam)
Professor : Kamu tidak bisa menjawab kan? Ayo kita lanjutkan lagi, anak muda. Apakah Tuhan baik?
Mahasiswa : Iya.
Professor : Apakah setan baik?
Mahasiswa : Tidak.
Professor : Siapa yang menciptakan setan?
Mahasiswa : Mmm...Tuhan...
Professor : Benar sekali. Coba jawab aku, nak, apakah ada kejahatan di dunia ini?
Mahasiswa : Iya.
Professor : Kejahatan ada dimana-mana, bukan? Dan Tuhan tidak melakukan apapun, kan?
Mahasiswa : Iya.
Professor : Jadi siapa yang menciptakan kejahatan?
(Semua mahasiswa tidak menjawab)
Professor : Apakah di dunia ini ada penyakit? Kebencian? Keburukan? Kebejatan? Semua hal yang buruk ada di dunia ini.
Mahasiswa : Iya, pak.
Professor : Jadi, siapa yang menciptakan mereka semua?
(Mahasiswa tidak menjawab)
Professor : Ilmu menjelaskan bahwa kita mempunyai lima indera untuk mengenali dan mengamati dunia di sekitar kita. Beri tahu aku, nak, apakah kamu pernah melihat Tuhan?
Mahasiswa : Tidak pernah, pak.
Professor : Apakah kamu pernah mendengar Tuhan?
Mahasiswa : Tidak, pak.
Professor : Apakah kamu pernah menyentuh Tuhan, merasakan Tuhanmu, mencium bau Tuhanmu? Apakah kelima inderamu pernah merasakannya?
Mahasiswa : Tidak, pak. Sayangnya belum pernah.
Professor : Meskipun begitu kamu masih percaya pada-Nya?
Mahasiswa : Iya, pak.
Professor : Menurut metode penelitian ilmiah yang empiris, dapat diuji, dan dibuktikan, Ilmu menyatakan bahwa Tuhan itu tidak ada. Bagaimana menurutmu, nak?
Mahasiswa : Saya hanya percaya, pak.
Professor : Iya, percaya. Itulah masalahnya.
Mahasiswa : Professor, apakah ada hal yang disebut panas?
Professor : Iya.
Mahasiswa : Apakah ada hal yang disebut dingin?
Professor : Iya.
Mahasiswa : Tidak, pak. Tidak ada.
(Ruang kuliah menjadi sangat sunyi)
Mahasiswa : Pak, kita bisa merasakan panas, kurang panas, atau sangat panas. Tapi kita tidak mengenal adanya dingin. Kita bisa berada dalam suhu 485 derajat di bawah nol yang disebut keadaan tanpa adanya panas.
Tidak ada hal yang bernama dingin. Dingin hanyalah kata yang digunakan untuk menggambarkan keadaan dimana tidak ada panas. Kita tidak bisa mengukur dingin. Panas adalah energi. Dingin bukanlah kebalikan dari panas, tapi hanyalah keadaan dimana tidak ada panas.
(Kelas benar-benar menjadi sunyi senyap)
Mahasiswa : Bagaimana dengan gelap, Professor? Apakah ada hal yang disebut gelap?
Professor : Iya. Jika malam kan gelap.
Mahasiswa : Anda salah lagi, pak. Gelap adalah satu keadaan dimana tidaka ada cahaya. Kita bisa melihat cahaya yang terang, yang redup, yang berkedip-kedip, tapi jika kita tidak melihat cahaya secara terus-menerus, maka itu disebut gelap. Kita tidak bisa membuat gelap menjadi semakin gelap kan, pak?
Professor : Jadi apa maksudmu, anak muda?
Mahasiswa : Pak, maksudku adalah bahwa pernyataan anda lemah.
Professor : Lemah? Bisakah kamu jelaskan?
Mahasiswa : Pak, anda menyatakan tentang dualisme. Anda menyatakan bahwa ada hidup dan mati. Ada Tuhan baik ada Tuhan jahat. Anda melihat Tuhan sebagai sesuatu yang jelas, sesuatu yang bisa kita ukur.
Pak, ilmu tidak bisa menjelaskan tentang pikiran. Untuk mengetahui tentang pikiran ilmu menggunakan energi listrik dan magnetik, tapi tak pernah benar-benar melihatnya dan memahaminya.
Melihat kematian sebagai sesuatu yang merupakan kebalikan dari kehidupan adalah hal yang ceroboh. Kematian bukanlah kebalikan dari kehidupan, tapi hanya suatu keadaan dimana tidak ada kehidupan. Sekarang saya ingin bertanya, Prof. Apakah anda mengajar mahasiswa anda bahwa mereka adalah keturunan kera?
Professor : Jika kamu merujuk pada teori evolusi, iya, tentu saja.
Mahasiswa : Apakah anda pernah melihat evolusi dengan mata anda sendiri, pak?
(Professor menggelengkan kepala, mulai menyadari kemana argumen itu akan mengarah)
Mahasiswa : Karena anda tidak melihat sendiri proses evolusi dan bahkan tidak bisa membuktikan bahwa proses evolusi terus berlanjut, bukankah anda menyalahkan sendiri ajaran anda?
Anda ilmuwan atau pemuka agama?
(Seisi kelas langsung bergemuruh)
Mahasiswa : Apakah ada seseorang di kelas ini yang pernah melihat Otak milik Professor?
(Seisi ruangan langsung riuh dengan tawa)
Mahasiswa : Apakah ada seseorang di kelas ini yang pernah mendengar otak milik Professor, menyentuhnya, merasakannya, mencium baunya?
Tak seorangpun pernah melakukannya. Jadi, menurut metode penelitian ilmiah yang empiris, dapat diuji, dan dibuktikan, Ilmu menyatakan anda tidak punya otak, pak.
Dengan segala hormat saya pak, jika memang demikian, bagaimana kami bisa percaya kuliah bapak?
(Ruang kelas hening. Sang Professor memandang mahasiswanya. Raut mukanya sungguh tak bisa digambarkan)
Professor : Saya rasa kamu hanya harus percaya, nak.
Mahasiswa : Iya...tepat, pak! Hubungan antara manusia dengan Tuhan adalah kepercayaan.
____________________________________________________________________
Mahasiswa itu adalah Albert Einstein.
Jadi, gimana menurut kalian? Terkadang kita bilang bahwa seseorang itu tidak bisa dipercaya. Kita bilang hal itu karena tindakannya memang tidak bisa dipercaya.
Mungkin kalian curiga dengan pacar kalian karena dia terlihat akrab dengan orang lain, karena dia boncengan, atau karena hal lainnya. Kita bilang kita tidak percaya ke dia karena dia seperti itu.
Sesungguhnya, kepercayaan itu tak perlu bukti. Kita percaya oksigen itu ada, meski kita sebenarnya tidak tahu warnanya, rasanya, atau baunya. Apa kita harus membuka batok kepala seseorang, melihat otak itu, memegang, merasakannya, atau membauinya baru kita akan percaya? Tentu saja tidak. Kita percaya bahwa seseorang punya otak meski kita tidak pernah melihatnya.
Kepercayaan memang terkadang sulit. Tapi harus belajar untuk mempercayai seseorang atau sesuatu bahkan ketika tidak ada bukti. Kita harus percaya diri kita hebat, teman kita hebat (dan juga baik), bukan karena ada buktinya, tapi hanya karena percaya.
Petikan dialog dari anonymous
Hallo Semuanya,
Long time no blog. Lama ga ngeblog.. :-)
Tapi semuanya sudah berakhir, awal baru dimulai. Layout baru, beberapa widget baru juga. Aku habiskan waktu seharian untuk ngedit blog ini dan semua terbayar. Aku Senang melihat tampilan blogku ini. Bagaimana dengan kalian? Kalian bisa menuliskan komentar tentang blog ini (juga pertanyaan) lewat widget facebook di sebelah kananmu. Tentu saja kamu harus punya account facebook lalu login agar bisa memberi komentar.
Setelah ini aku akan memposting artikel-artikel lagi. Mulai dari tentang kelas kalian masing-masing, pelajaran dan juga hasil ulangan/tes, SMANGA, dan info-info lainnya yang menarik. So, selalu check blog ini agar kalian terupdate dengan info-info terbaru.
Selamat membaca. Hope you enjoy my old but new blog.
Dody Luhansa
Long time no blog. Lama ga ngeblog.. :-)
Tapi semuanya sudah berakhir, awal baru dimulai. Layout baru, beberapa widget baru juga. Aku habiskan waktu seharian untuk ngedit blog ini dan semua terbayar. Aku Senang melihat tampilan blogku ini. Bagaimana dengan kalian? Kalian bisa menuliskan komentar tentang blog ini (juga pertanyaan) lewat widget facebook di sebelah kananmu. Tentu saja kamu harus punya account facebook lalu login agar bisa memberi komentar.
Setelah ini aku akan memposting artikel-artikel lagi. Mulai dari tentang kelas kalian masing-masing, pelajaran dan juga hasil ulangan/tes, SMANGA, dan info-info lainnya yang menarik. So, selalu check blog ini agar kalian terupdate dengan info-info terbaru.
Selamat membaca. Hope you enjoy my old but new blog.
Dody Luhansa
Maaf satu bulan ini, karena saat dan lain hal, aku ga bisa update blog. Sadly, ini akan berlangsung hingga waktu yang tidak bisa ditentukan.
Best Regards,
Dody Luhansa
Best Regards,
Dody Luhansa
