> Di hari Kamis kemarin, media dari Swedia melaporkan bahwa seorang imigran dari Irak yang berusia 16 tahun, yang tinggal di Swedia, telah memecahkan teka-teki matematika yang sudah memusingkan para ahli selama 300 tahun! .

Hanya dalam waktu empat bulan, Mohamed Altoumaimi sudah menemukan satu formula untuk menjelaskan angka-angka Bernoulli, satu rangkaian penghitungan yang dinamakan dari nama ahli matematika abad 17, Jacob Bernoulli dari Swiss.

Altoumaimi, yang datang ke Swedia enam tahun lalu, berkata bahwa guru-guru di SMA-nya di Falun, Swedia bagian tengah, pada awalnya tidak percaya dengan apa yang telah dia lakukan.

Dia lalu menghubungi professor di Uppsala University, salah satu Perguruan Tinggi ternama di Swedia untuk mengecek pekerjaannya. Setelah diperiksa, professor tersebut menemukan bahwa pekerjaan anak itu benar! Dia lalu menawarkan satu temapt di Uppsala bagi remaja itu..

Tapi untuk saat ini, Altoumaimi memfokuskan diri pada pelajarannya di sekolah dan merencanakan untuk mengambil kelas di musim panas di bidang matematika dan fisika lanjutan tahun ini.

"Aku ingin menjadi peneliti di bidang matematika atau fisika, aku sangat menyukai pelajaran itu. Tapi aku harus meningkatkan bahasa Inggrisku dan ilmu-ilmu sosial dulu," katanya.

Disadur dari Yahoo!

ca-pub-2154947757728137.

Di tiap sekolah selalu ada petugas inti upacara. Mereka lah yang akan menjadi bertugas di hari-hari penting, macam Hari Kemerdekaan, Hari Pahlawan, dan yang semisalnya (kapan ya di Hari AIDS akan diadakan upacara? Atau mungkin Hari Bumi?). Selain petugas yang aku sebut sebelumnya, ada juga petugas lainnya. Mereka adalah siswa-siswi yang ditunjuk untuk menjadi perwakilan kelas sebagai petugas upacara. In other words, setiap minggu, kelas-kelas mendapat giliran untuk menjadi petugas upacara.

Itulah yang akan terjadi pada anak-anak kelasku besuk Senin. Di hari itu, mereka, untuk kedua kalinya di tahun ajaean ini, akan bertugas di hari Senin.

Seperti biasa, seperti yang terjadi di kelas lainnya, di hari Sabtu, sebelum bertugas keesokan Seninnya, kelasku mengadakan latihan upacara. Sebelumnya, tentu, aku pilih dulu siapa-siapa yang akan bertugas. Kali ini aku memilih petugas yang berbeda dengan sebelumnya. Anak-anak yang dulu sudah menjadi petugas, tidak aku pilih kembali. Cara pemilihan itu dengan tujuan untuk memberi keadilan bagi semua anak, dan di saat yang sama memberi kesempatan pada anak lainnya untuk "berbuat sesuatu."

Mereka yang aku tunjuk tadi hampir semuanya enggan sebenarnya. Aku merasa semua tidak mau karena mereka tak berani tampil di depan,atau ga suka. Yang ada di pikirannya, besuk kalau tampil mereka akan diliatin semua orang. Belum-belum mereka berpikir, "jangan-jangan nanti aku akan berbuat kesalahan?" Toh, salah atau nggak kan belum terjadi. Belum tentu berbuat salah kan? Kata siapa akan salah, siapa tau nggak. Mereka punya kecenderungan untuk tidak percaya dengan dirinya sendiri. Karena kecenderungan itulah aku menunjuk mereka, agar mereka bisa melatih kepedeannya.

Selalu ada yang pertama kali untuk segala hal kan? Kalo memang siswa-siswiku itu belon pernah, maka karena itu aku memberinya kesempatan. Agar mereka belajar.

Aku percaya semua anak bisa melakukan sesuatu yang hebat. Jadi tidak ada yang namanya anak yang pintar dalam segalanya. Seorang anak yang dikirim ke semua lomba, mulai dari lomba siswa teladan, olimpiade, cerdas cermat, pidato, debat, baca puisi, hingga makan kerupuk. Bagiku tidak ada anak yang seperti itu.Yang aku percaya adalah setiap anak mempunyai kemampuan untuk menjadi "someone." Mereka hanya harus dipercaya, diberi kesempatan, dan diajari bagaimana cara menjadi hebat.

Termarjinalkannya (baca=terpinggirkannya) anak-anak "hebat" itu terjadi karena "sang guru" tidak mempercayai anak lainnya. Karena sang pendidik merasa anak lainnya tidak bisa, tidak cukup hebat. Atau sebab guru itu takut kalah dan takut dipersalahkan. Dia tak berani ngambil resiko mengirim anak-anak yang tak "teruji", oleh karena itu dia selalu mengirim siswa-siswi yang sudah pernah ikut lomba yang sebagai akibatnya hanya anak-anak itu saja yang dikirim. Bukan karena anak lainnya tidak bisa atau tidak mampu, tapi lebih karena anak-anak lainnya tidak dipercaya, dan, atau, sebab gurunya adalah tipe orang yang ingin main aman. Yang sangat berhati-hati dalam melangkah, hingga saking hati-hatinya dia tidak melangkah sama sekali! Model orang yang tidak suka mengambil resiko, yang menganggap kekalahan adalah dosa yang layak masuk neraka dan akan terbakar di dalamnya. Kekal sengsaranya! Mungkin itu pesan dari kiainya?!

Dengan dasar itulah aku memilih petugas upacara. Aku ingin memberi kesempatan pada mereka untuk belajar. Untuk merasakan sensasi kegugupan saat harus bertugas dan di saat yang sama belajar mengatasinya. Dan ketika bisa mengatasinya, aku ingin mereka sadar bahwa mereka hebat. Jikalau pun mereka gagal dan aku berdosa karenanya, biarlahb aku jadi pendosa dan kekal terbakar apinya. Kalaupun gagal, aku ingin mereka belajar dari kegagalan itu. At least, mereka sudah berani melakukan hal yang mereka takutkan, telah berani menaklukkan their inferiority.

Bagiku, apa yang akan terjadi besok Senin, entah upacara akan berjalan sukses atau tidak bukanlah yang terpenting. Ketika mereka mau dan berani (mungkin aku paksa untuk berani alias memberani-beranikan diri) untuk maju betugas, lepas bagus atau enggaknya, mereka adalah PEMENANG bagiku. Tatkala memutuskan untuk mengiyakan "permohonanku" untuk menjadi petugas mereka adalah JUARA.

Walau mereka mungkin enggan dan tidak percaya dengan kemampuan mereka sendiri, aku yakin besok Senin, anak-anak kelas XI Sosial 4-ku akan bertugas dengan baik.

Berikut ini, JUARA-JUARA yang akan menjadi petugas upacara esok Senin :
  • Pemimpin Upacara : Slamet Kamarudin
  • Ptotokol : Devi Yulita
  • Pemimpin Regu : Achmad Ali Mahmudi, Nunuk Aji Pamungkas
  • Pembaca UUD : Yayuk
  • Pembaca Doa : Suntari
  • Pembawa Naskah Pancasila: Umar
  • Petugas Bendera : Yuda, Arom, Indah
  • Penjemut Pembina Upacara : Jupri
  • Dirigen : Dewi Sudarwati
Mereka adalah anak-anak pilihanku.
>Beberapa waktu yang lalu, anak-anak kelas XI Sosial yang aku ajar melakukan job vacancy analysis.
Aku minta membentuk kelompok yang maskimal terdiri dari 5 anak. Kemudian, mereka membawa koran hari sabtu. Setelah itu yang harus mereka lakukan adalah:
  1. Menghitung jumlah lowongan pekerjaan yang ada di koran itu (bukan iklan lowongan yang dari iklan baris).
  2. Menghitung jenis-jenis pendidikan yang dibutuhkan untuk tiap lowongan. Misal SMP ada berapa lowongan? SMA berapa, D1 berapa, D3 berapa, S1 berapa, dst.
  3. Setelah rincian tiap jenis pendidikan didapat, Siswa harus merinci jurusan yang dibutuhkan. Misal, dari total D1 yang berjumlah 3, jika dirinci maka 2 lowongan membutuhkan D1 komputer, sedang 1 D1 akuntansi.
  4. Menganalisa jenis-jenis pekerjaan yang ditawarkan untuk tiap-tiap tingkatan pendidikan.
  5. Menganalisa persamaan dan perbedaan persyaratan yang dibutuhkan untuk jenis pekerjaan yang sama.
Analisa yang mereka lakukan itu bertujuan untuk:
  1. Mengetahui pekerjaan apa saja yang ditawarkan.
  2. Mengetahui kemampuan apa saja yang perlu dipelajari untuk masuk ke dunia kerja.
  3. Tingkat atau jenis pendidikan apa saja yang paling banyak dicari oleh pemberi kerja (perusahaan).
Jika semua itu telah diketahui, diharapkan hal itu akan membantu siswa-siswi dalam mempersiapkan diri mengahadapi masa depan mereka secara umum, dan secara khusus membantu mereka dalam memilih jurusan jika mereka kuliah nanti.

Di minggu ini analisis telah mereka lakukan. walau tidak seperti yang saya harapkan, tidak semua kelompok membawa koran yang diperlukan. Oleh karena itu aku meminta mereka untuk keluar kelas, dan menganalisa lowongan pekerjaan secara individu.

Bagi kelompok yang tak lupa membawa koran, job vacancy analysis adalah tugas kelompok. Mereka juga mengerjakan tugas mereka dengan baik. Tiap anggota kelompok berbagi tugas dalam menyelesaikan pekerjaan mereka. Sesekali mereka bertanya, tapi bisa dibilang semua berlangsung lancar.

Foto di samping diambil dari kelas XI Sosial 3. Diantara semua kelompok yang ada, hanya dua grup yang membawa koran. Sebagai hasilnya kelas terlihat sepi.


Hal yang hampir sama terjadi di kelas XI Sosial 4. Hanya dua kelompok yang membawa koran. Konsekuensinya, yang tidak membawa harus keluar kelas, seperti terlihat di bawah ini. Jika kalian perhatikan, hampir semua anak tidak berani memperlihatkan wajah mereka. Malu sepertinya.


Ketika jam pelajaran hampir berakhir, rata-rata setiap kelompok sampai di langkah ke-4 atau hampir selesai. Karena Jam tidak mencukupi, akhirnya tugas tersebut aku minta untuk dilanjutkan di rumah.

Langkah selanjutnya setelah job vacancy analysis selesai, mereka aku minta untuk membuat lamaran pekerjaan dan curriculum vitae dalam bahasa Inggris. Tentu saja sebelumnya aku jelaskan dan beri contoh terlebih dahulu.
Hampir satu minggu lalu SMA 1 Ngawen mengikuti kompetisi mading di Purwodadi. Di lomba itu, mading dari SMA negeri yang terletak di pojok barat kabupaten Blora menjadi pemenang pertama. Sebagai hasilnya, mading yang dibuat oleh 6 anak tersebut itu maju ke kompetisi lanjutan di Jepara pada hari Rabu, 27 Mei, dan ditandingkan dengan pemenang-pemenang dari Zona lainnya.

Sekarang adalah tanggal 28 Mei. Kemarin, tanggal 27 Mei, mading anak SMANGA dilombakan di kota kelahiran pahlawan emansipasi, R.A. Kartini.

Berbeda dengan lomba sebelumnya di Purwodadi yang hanya dihadiri oleh tiga anggota mading, kali ini, kompetisi di Jepara bisa diikuti oleh semua anggota grup mading (thanks to Bapak Misgiyanto, Kepala Sekolah SMA N 1 Ngawen).

Tim mading berangkat dari sekolah sekitar pukul 08.30an dengan mobil yang that was driven by Bapak Edi. Seluruh anggota tim, Aziz, Andri, Erna, Hefi, Restu, dan Putri, dengan penuh semangat pergi ke lomba yang tidak akan pernah mereka lupakan itu.

Rute yang diambil adalah Sekolah-Kunduran-Puncak Wangi-Juwana-Tayu-Jepara. Perjalanan bisa dikatakan sangat lancar, walau aku merasa kurang nyaman karena agak masuk angin. Di tengah perjalanan aku menerangkan ke semua anggota tim bahwa nanti yang bisa didaftarkan hanya 5 anak. Alternatif pertama, adalah Aziz, Erna, Hefi, Andri, dan Putri. Tapi karena karena ada aturan bahwa anggota madding harus menyerahkan fotokopi kartu pelajar, sedang aziz tidak mempunyainya, maka muncul alternatif kedua. Pilihan berikutnya adalah Erna, Hefi, Andri, Restu, dan Putri yang akan didaftarkan. Mereka pun bisa mengerti dengan penjelasan yang aku berikan. Baik Restu atau Aziz bisa memahami jika mereka tidak bisa didaftarkan. Sikap yang sangat dewasa menurutku. Mengalah demi keutuhan tim.

Selain menjelaskan tentang hal itu aku juga menerangkan tentang kemungkinan bahwa mereka akan diminta mempresentasikan madding yang dibuat. Memang itu hanyalah kemungkinan, tapi tetap saja semua harus dipersiapkan. Sedia payung sebelum hujan. Baik Aziz ataupun Erna (yang aku tunjuk sebagai orang yang mungkin memberi presentasi) antusias mendengar my explanation. terutama Erna, dia malah mengharapkan sekali agar ada presentasi. Agak banci tampil juga dia...hwakakakaka....

Pada pukul 12,00an kami mulai memasuki Jepara. Karena waktu registrasi masih 1 jam lagi, dan hari juga sudah siang, kami pun memutuskan untuk makan siang dulu Mobil pun dihentikan di depan warung yang ramai. Banyak sekali kendaraan, baik roda dua atau empat. yang diparkir di depan rumah makan itu. Di warung Rahayu itu kami mengisi perut terlebih dahulu sebelum mengikuti lomba. And you know what, The food was so yummy! (Nyam...nyam...nyam....jadi laper lagi neh)

Waktu itu karena aku ngerasa laper ya aku yang ngantri makan duluan. Aku pesan udang...hmmmmm.... Bp. Edi ma ikan dorang, Andri dan Aziz dengan daging, Restu entah dengan apa, sedang para cewek berlauk lele. Hefi dan Putri malah lele dengan sayur bayam! anak yang aneh?!

Aku bilang, "lele tu paling cocok pake sayur rawon!"

Hwakakaka... :D

Anyway, setelah pit stop isi perut selesai kami pun segera menuju ke Gedung Wanita di Jalan Kartini, tempat berlangsungnya acara. di depan gedung banyak sekali dipasang umbul-umbul dan spanduk kartu As dan Zona Asik present D'Masiv. Mobil-mobil juga banyak yang sudah diparkir diluar gedung.

Setelah memarkir kendaraan kami pun langsung menuju gedung.Di depan gedung terpasang mading-mading. Kata Aziz, "itu maddingnya pak." But, karena waktu sudah jam 13.00, kami lalu registrasi dulu. Saat sampai di meja registrasi sudah ada kelompok yang mendaftar. Ternyata mereka dari grup band. Anak Ngawen merupakan tim madding pertama yang registrasi.

"wah good sign neh," gitu batinku.

Segera setalah mendaftar, kami menuju ke depan untuk melihat madding. Disana sudah terdisplay 5 madding yang salah satunya dari SMA 1 Ngawen. Tentu saja anak-anak langsung berpose di depan madding. Narsisnya kumat!

Coba tebak, siapa yang ada di belakang Putri dan Erna, yang memegang tiket Zona Asik present D'Masiv!

Yup bener, itu setan!

Hwakakaka.... (maaf Ziz becanda! he....)

Itu Aziz anak Wantilgung.

FYI, madding di atas kepala Restu adalah madding SMA 1 Ngawen. Di bagian atas madding yang agak terbuka itu adalah halaman ketiga. Halaman pertamanya ialah gambar cowok berseragam OSIS itu.

Berikut ini beberapa gambar madding lain yang terpasang di depan Gedung Wanita.



Aku tidak begitu inget yang mana pastinya, tapi madding di atas adalah madding dari SMA dari Demak dan Rembang. Entah yang mana yang Demak, yang mana yang Rembang. Selain dari daerah itu. finalis madding juga berasal dari SMA-SMA di Kabupaten Grobogan. Lingkup kompetisi sendiri mulai dari Kabupaten Blora, Grobogan, Rembang, Pati, Demak, dan Jepara.

Setelah puas narsis-narsisan dan melihat-lihat madding, kami pun langsung memasuki gedung. Di dalam keadaan masih cukup sepi. Penonton yang ada masih sedikit. keadaan di dalam, menurutku sangat kotor. Gedungnya tidak terawat, keadaan tempat duduknya pun memprihatinkan. Kami, then, mengambil di tempat duduk di dekat panggung, di tribun pinggir panggung. Cukup lama kami duduk di situ, mulai sound check hingga band kedua. Karena keadaan di atas panas akupun pindah ke bawah saja, sedang anak-anak tetap di atas. Tak lama kemudian Aziz menyusul ke bawah.

Singkatnya, kami harus menunggu 7 band dan 6 dance team tampil untuk menunggu pengumuman pemenang madding. Bahkan ketika pemenag band dan dance competition diumumkan madding pun tak juga dibacakan jawaranya. Karena takut jangan-jangan madding tidak dibacakan, entah karena lupa atau tidak dilombakan, aku dan Aziz pun mencari panitia untuk menanyakan tentang madding. Kami berdua berlari memutari gedung untuk mencari panitia yang bisa ditanyai. Di tengah ketidaksabaran kami itu, kemudian kami dikejutkan dengan suara,

"Pemenang pertama madding adalah SMA ! Ngawen!"

Wah...seneng banget rasanya. Benar-benar bahagia! Segera saja Aziz dan aku bersalaman. Aku lalu menyuruh Aziz naik ke panggung tapi karena dia tidak memakai tanda pengenal peserta madding kami langsung berlari mencari anak-anak lainnya, meminta mereka agar segera naik ke panggung untuk menerima hadiah. Aku menemui Hefi dan Putri menyuruh mereka untuk naik ke atas dan bertanya mana Erna. Tapi ternyata si cewek "panjang" itu sudah di atas panggung!

Setalah menerima piala dan sertifikat cewek dari Todanan itu turun dari panggung dan kami pun bergantian memegangi piala yang baru saja diperoleh. Tak henti-hentinya kami mengagumi hasil jerih payah kami. Belum hilang girangnya kami semua karena mendapatkan juara pertama, tiba-tiba penonton bersorak. D'Masiv naik ke panggung!

Anak-anak langsung lupa dengan pialanya, mereka segera berebutan maju ke depan mendekati panggung. Depan panggung yang tadinya sepi tiba-tiba terisi penuh dengan penonton. Semua bersorak, menjerit, berteriak, dan melompat menyambut band favorit mereka muncul. Gegap gempita berkumandang, sorak sorai D'Masiver tak henti-hentinya terdengar. Ponsel pun tal lupa mereka acungkan, mereka momen yang mereka tunggu-tunggu. Udara tiba-tiba terasa panas dan langka karena ratusan orang berebut menghirupnya. Keadaan benar-benar ramai dan semua orang bersemangat. Atmosfernya sungguh menakjubkan.

Ketika Ryan D'Masiv mulai bernyanyi penonton pun menggila. D'Masiv langsung menggeber lagu berirama up-beat sebagai lagu pembuka mereka. Pilihan yang tepat karena lagu itu langsung memacu adrenalin semua yang hadir di Gedung Wanita. Semunya, cewek dan cowok, laksana kesurupan bernyanyi melompat dan menggerakkan tangan mereka mengikuti lagu. Suara sang vokalis membahana membius pencintanya bagai racun yang nikmat untuk mereka.

Setelah pertunjukan D'Masiv berakhir team madding lansung aja berpose dengan hasil perjuangan mereka.

Hayo gambar sapa yang paling lucu? Mengapa? Teliti satu per satu deh. Ada yang salah pokoknya. Aku juga baru tau kok.

Sebelum pulang panitia memberitahu aku agar kami tidak pulang terlebih dahulu dan diminta ke meja registrasi. Disitu kami, kemudian, diberi satu lagi sertifikat. Selain itu, mereka juga bilang bahwa kami akan diberi hadiah lainnya. Singkatnya, kami diberi amplop putih yang bertuliskan SMA ! Ngawen.

Setelah itu kamipun langsung pulang. ketika kami meninggalkan Gedung Wanita, waktu sudah menunjukkan pukul 18.15an. Sudah beranjak malam. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini perjalanan pulang melalui Kudus.

Sesampainya di kota jenang, kami berhenti di sebelah timur aloon-aloon, untuk ngasih makan cacing-cacing di perut dan juga merayakan kemenangan. Perjalanan menuju rumah masih sangat panjang, kami harus recharge our energy first. Kami semua mampir di KFC. Jarang-jarang kan kami makan di tempat itu, dan kemarin adalah waktu yang tepat untuk makan di restauran fast food itu. We got something to be celebrated right.

Sesudah selesai makan disitu kami pun meneruskan perjalanan. Dari kudus hingga Juwana perjalanan berlangsung lambat karena banyak sekali truk-truk besar di jalan, sedangkan lebar jalan relatif sempit. Tapi setelah Juwanan, mobil dapat melaju tanpa hambatan. Seperti ketika berangkat, kami melewati Puncak Wangi dan langsung ke Todanan. Sesampainya di Todanan si Erna turun, dan di Kunduran Restu dan aku juga turun. Aziz, Andri, Hefi, dan Putri berhenti di Ngawen. Aku sendiri meneruskan perjalanan ke Cepu dengan sepeda motor dan sampai di kotaku sekitar pukul 24.00, sudah di awal hari Kamis.

Aku yakin kami semua, Aziz, Andri, Restu, Putri, Hefi, Erna, Pak Edi, dan aku, sangatlah capek. Tapi, aku juga tahu pasti bahwa kami semua puas dan terlelap dengan senyum. Bukan karena kemenangannya, tapi karena kerja keras dan perjuangan yang telah kami lakukan.
Jumat, 22 Mei, kemarin, di Purwodadi diselenggarakan lomba mading kreatif dalam rangka zona Asik present D'Masiv. Kompetisi tersebut diadakan di Rumah Makan Pojok Kalegan, Nglejok, Purwodadi mulai pukul 14.00.

Sebenarnya tim mading yang diwakili oleh tiga orang anak, Aminuddin Aziz, Andri Saputra, dan Restu Singgih, dan juga aku, tidak tahu dimana R.M. Kalegan itu, kami pun tetap berangkat.

"Kan bisa tanya," gitu pikirku dalam hati.

Kami berangkat menuju tempat lomba pada pukul 12.30. Perjalanan dengan sepeda motor ditempuh selama 1,5 jam karena sempat berhenti beberapa kali untuk ngisi bensin dan mampir ke rumah Restu dulu. Sesampainya di sana, tim langsung registrasi ulang.

Acara di sana, selain lomba mading juga ada lomba dance dan band. setelah semua peserta kompetisi dance dan band tampil, pada sekitar pukul 15.30an pengumuman pemenang dibacakan.

Anyway, setelah registrasi kami pun terus mencari tempat duduk dan segera pesan makanan. Laper banget! Wajar kan kalau kami lapar coz emang ketika berangkat belon sempet makan siang.

Rumah makan itu tempatnya nyaman, walau mejanya agak berdebu. Desain tempatnya lesehan gitu. Model kayak "Tempuran" gitu. If you know what I mean. Maksudnya kayak rumah makan-rumah makan yang menu andalannya ikan bakar gitu. Yang restaurannya berdiri di atas kolam ikan gitu.

Sembari kami makan, audisi band pun dimulai. Satu persatu peserta band tampil. Di giliran kedua, band dari perwakilan SMA 1 Ngawen, "Plengah Plengeh band", tampil. Grup musik yang beranggotakan Rizka, Badri, Syigit, dan Ojhie itu tampil memainkan lagu dari Wayang.

Sementara band dari SMANGA tampil, tim madding asyik photo-photo..hwakakaka.... Acara yang kayak gitu ga boleh ketinggalan dong!


Audisi band yang dilakukan di hari itu diselengi dengan kompetisi dance. jadi setiap dua band yang tampil akan disela dengan satu team dance, begitu seterusnya. Band yang tampil juga asyik-asyik, walau lagu mereka ga se-catchy lagu yang dimainkan "Plengah Plengeh band."

Setelah semua grup band dan dance tampil, maka para pemenag diumumkan, termasuk untuk madding. Hasilnya, kita, SMA 1 Ngawen, menjadi pemenang mading!

seneng banget rasanya. anak-anak langsung berlarian menuju panggung, sedang aku tetap di tempat kami makan, mensyukuri apa yang telah kami peroleh. Menjadi 1st winner.

Saking senengnya, waktu itu aku sampai lupa ga bayar makanan dan langsung keluar. Terhanyut kemenangan kali...hwakakak.... Waktu itu mas pelayannya, tanya ke aku pas aku udah di luar,

"Mas tadi udah belajar belon?"

Waktu itu aku awalnya ga ngeh, tak pikir belon bayar parkir. Berhubung belon bayar parkir, aku trus bilang, "belon Mas."

Tapi seketika aku menjawabnya, aku trus inget,

"Duh, aku belon bayar makan. Wah, sorry mas...aku lupa," kataku cepat sesaat setelah aku ingat kembali.

By the way, di luar ketika mau pulang, anak-anak seperti biasa foto-foto merayakan kemenangan mereka. Semua senang. Menjadi pemenang emang menyenangkan ya? Tapi bukan kemenangan itu yang indah, tapi ketika kerja keras anggota tim mading mendapat hasil. Perjuangannya yang buat keberhasilan ini menjadi manis! Betul ga?

Untuk selanjutnya, madding masih akan dilombakan lagi di Jepara melawan pemenang dari zona lainnya. Di Jepara, Rabu 27 Mei, pula prize untuk madding diberikan.Itu menurut contact person dari Telkomsel yang aku hubungi.


Berikut ini tampilan maddingnya...






Tiga gambar madding tersebut ada di satu halaman. Teknisnya, madding tersebut dibuat bertingkat. penjelasan lebih lanjut akan dijelaskan di posting berikutnya.