>[youtube http://www.youtube.com/watch?v=QXjVgFZHxlg&hl=en&fs=1&]
>Heran dah bebrapa hari mo upload foto ga bisa. Jadi males, masa blog isinya cuma tulisan ja..
Untuk semua yang baca blogku ini, maaf ya untuk sementara blognya ga bisa maksimal. Makasih untuk pengertiannya...
Untuk semua yang baca blogku ini, maaf ya untuk sementara blognya ga bisa maksimal. Makasih untuk pengertiannya...
Seperti yang kita ketahui, sekolah terkadang menutup pintunya rapat-rapat untuk kehadiran ponsel bagi para siswa-siswi di kelas. Namun tidak begitu dengan sekolah dasar St Mary di Ohio, Amerika Serikat, mereka justru sengaja mencekoki para murid dengan alat komunikasi itu.
Para murid yang diberikan keleluasaan dengan ponsel pintar (smartphone) berjenis PDA ini mulai dari kelas 3 ke atas. Hanya saja, bukan berarti kebebasan berponsel pihak sekolah bukan tanpa maksud, sebab ujung-ujungnya juga untuk membantu para murid belajar.
Seperti diketahui, ponsel tak lagi berfungsi sebagai alat komunikasi. Pada perangkat tersebut juga dapat dibenamkan berbagai aplikasi termasuk yang dapat menunjang kegiatan belajar anak-anak. Peluang inilah yang coba dimanfaatkan pihak sekolah.
Kyle Menchhofer, koordinator technology distrik setempat mengatakan, salah satu aplikasi yang mereka gunakan adalah Go Know!. Dengan aplikasi ini, para murid dapat menggambar, membuat sketsa, jurnal, hingga menulis essai.
"Sedangkan untuk aplikasi lain juga bisa membantu dalam pelajaran spelling dan matematika," ujarnya.
Tak hanya itu, para murid juga bisa beraksi bak pewarta warga (citizen journalism) ketika mereka mengunjungi suatu tempat. Ketika mereka berkunjung ke museum misalnya, sesaat setelah mengambil foto dengan PDA tersebut, mereka langsung menguploadnya ke server dimana para guru dapat melihat tugas-tugas anak asuhnya.
Meski ada yang menyangsikan metode pengajaran ini, Menchofer percaya bahwa cara ini dapat mengajarkan para siswa-siswi untuk lebih bertanggung jawab.
"Ponsel dan teknologi mobile tidak akan pergi kemana-mana. Namun yang kami ajarkan adalah ketika kamu di rumah pelajari dan gunakan teknologi apapun yang kamu inginkan. Tapi ketika di sekolah, kami minta kamu untuk mengikuti aturan yang ada," jelasnya.
Para murid yang diberikan keleluasaan dengan ponsel pintar (smartphone) berjenis PDA ini mulai dari kelas 3 ke atas. Hanya saja, bukan berarti kebebasan berponsel pihak sekolah bukan tanpa maksud, sebab ujung-ujungnya juga untuk membantu para murid belajar.
Seperti diketahui, ponsel tak lagi berfungsi sebagai alat komunikasi. Pada perangkat tersebut juga dapat dibenamkan berbagai aplikasi termasuk yang dapat menunjang kegiatan belajar anak-anak. Peluang inilah yang coba dimanfaatkan pihak sekolah.
Kyle Menchhofer, koordinator technology distrik setempat mengatakan, salah satu aplikasi yang mereka gunakan adalah Go Know!. Dengan aplikasi ini, para murid dapat menggambar, membuat sketsa, jurnal, hingga menulis essai.
"Sedangkan untuk aplikasi lain juga bisa membantu dalam pelajaran spelling dan matematika," ujarnya.
Tak hanya itu, para murid juga bisa beraksi bak pewarta warga (citizen journalism) ketika mereka mengunjungi suatu tempat. Ketika mereka berkunjung ke museum misalnya, sesaat setelah mengambil foto dengan PDA tersebut, mereka langsung menguploadnya ke server dimana para guru dapat melihat tugas-tugas anak asuhnya.
Meski ada yang menyangsikan metode pengajaran ini, Menchofer percaya bahwa cara ini dapat mengajarkan para siswa-siswi untuk lebih bertanggung jawab.
"Ponsel dan teknologi mobile tidak akan pergi kemana-mana. Namun yang kami ajarkan adalah ketika kamu di rumah pelajari dan gunakan teknologi apapun yang kamu inginkan. Tapi ketika di sekolah, kami minta kamu untuk mengikuti aturan yang ada," jelasnya.
>Guna memeriahkan HUT RI ke-64, Mal Cipura bekerjasama dengan BPK Penabur Jakarta mengelar ajang perakitan robot. Tak tanggung-tanggung, sebayak 550 robot berhasil dirakit selama satu hari.
Ajang kompetisi bertajuk 'Merakit 550 Robot oleh 550 Siswa Dalam Sehari' ini diikuti seluruhnya oleh para siswa sekolah dasar (SD) dan berhasil diselesaikan dalam kurun waktu tidak lebih dari 2 jam.
Tidak hanya sekedar unjuk kebolehan, para siswa yang ikut acara tersebut juga akan berkesempatan membawa pulang hadiah utama, yakni berupa sepeda.
Hasil karya dari lomba yang digelar di tengah pusat perbelanjaan, Sabtu (15/8/2009) ini, selanjutnya akan diseleksi oleh para juri yang terdiri dari instruktur dari G-Com Teknologi dan IT Leisure. Kategori penilaian dilihat dari segi kerapihan, kecekatan dan kecepatan.
"Dengan diadakannya lomba seperti ini, para siswa diharapkan akan lebih mengerti mengenai mekanisme kerja suatu perangkat. Mereka akan lebih peka terhadap kesalahan yang mungkin terjadi ketika membuat suatu sistem," ujar Lucas C Gee, Director Klub Robotic kepada Detik disela-sela acara tersebut.
Ajang kompetisi bertajuk 'Merakit 550 Robot oleh 550 Siswa Dalam Sehari' ini diikuti seluruhnya oleh para siswa sekolah dasar (SD) dan berhasil diselesaikan dalam kurun waktu tidak lebih dari 2 jam.
Tidak hanya sekedar unjuk kebolehan, para siswa yang ikut acara tersebut juga akan berkesempatan membawa pulang hadiah utama, yakni berupa sepeda.
Hasil karya dari lomba yang digelar di tengah pusat perbelanjaan, Sabtu (15/8/2009) ini, selanjutnya akan diseleksi oleh para juri yang terdiri dari instruktur dari G-Com Teknologi dan IT Leisure. Kategori penilaian dilihat dari segi kerapihan, kecekatan dan kecepatan.
"Dengan diadakannya lomba seperti ini, para siswa diharapkan akan lebih mengerti mengenai mekanisme kerja suatu perangkat. Mereka akan lebih peka terhadap kesalahan yang mungkin terjadi ketika membuat suatu sistem," ujar Lucas C Gee, Director Klub Robotic kepada Detik disela-sela acara tersebut.
>Dilarang menghujat, menilai, atau menghakimi. Just sit, watch, and keep your mouth sealed.
[youtube http://www.youtube.com/watch?v=2rwPP-B-Qfc&hl=en&fs=1&]
[youtube http://www.youtube.com/watch?v=2rwPP-B-Qfc&hl=en&fs=1&]