taken from https://practicalpie.com/wp-content/uploads/2021/03/06-William-Glasser.jpg


Modul terakhir ini membahas tentang budaya positif. Disini saya belajar banyak dari Control/Choice Theory-nya Dr. William Glasser yang mendasari langkah-langkah segitiga restitusi-nya Diane Gossen. Pembelajaran yang saya dapatkan dari materi ini saya kira bahwa materi ini sangat sejalan dengan filosofi Ki Hajar Dewantara bahwa anak memiliki kodrat alam dan zaman yang berbeda dan bahwa kita harus menuntunnya menuju keselamatan.


Seperti yang dinyatakan dalam LMS GP 25 pada bagian Dunia Berkualias, murid memiliki gambaran dunia mereka sendiri dan setiap murid bisa berbeda-beda. Selanjutnya juga disebutkan bahwa penting untuk membangun interaksi yang memberdayakan. Memposisikan diri sebagai manajer dan menggunakan segitiga restitusi untuk membantu murid menjadi pribadi yang mandiri, merdeka, dan bertanggung jawab atas segala perilaku dan sikapnya, yang pada akhirnya dapat menciptakan lingkungan yang positif, nyaman, dan aman adalah bentuk memberdayakan. Interaksi yang dilakukan juga memerdekakan murid artinya melatih mereka agar menemukan solusi masalahnya sendiri hingga pada akhirnya bisa menjadi pribadi yang mampu menentukan langkah sendiri tanpa pengaruh faktor eksternal atau luar. Hal ini sesuai dengan tujuan adanya disiplin positif yaitu membangun siswa yang memiliki motivasi motivasi intrinsik. Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline menyebutnya sebagai motivasi munculnya perilaku manusia karena mereka ingin menjadi manusia yang diinginkannya dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya.


Dalam menjalankan itu semua, guru di awal bisa mengambil peran sebagai pemimpin pembelajaran yang kemudian berusaha mewujudkan kepemimpinan murid. Tentu saja semua peran terus didukung dengan kolaboras, baik lewat penggerakan komunitas praktisi ataupun saling menjadi coach bari guru lainnya.i


Pada akhirnya, semua yang dilakukan akan merujuk pada visi yang sesuai dengan nilai-nilai kebajikan dalam Profil Pelajar Pancasila yaitu beriman, bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, mandiri, bernalar Kritis, berkebhinekaan global, bergotongroyong, dan kreatif. 


Pemahaman

Jika ditanya apakah saya paham tentang materi di modul ini, tentang teori kontrol/choice dan juga tentang segitiga restitusi, iya saya bilang saya bisa paham. Saya juga paham bahwa teori munculnya perilaku ini terbatas pada tiap individu, bahwa gambaran dunia berkualitas dalam memandang satu kebutuhan bisa berbeda-beda. Saya paham tidak mudah mengubah dunia berkualitas seseorang. Saya paham bahwa butuh kompromi, waktu, dan terutama membangun kedekatan emosional terlebih dahulu agar bisa menggantikan atau menukar gambar yang sudah ada di kepala sesorang.


Perubahan

Sebenernya perubahan yang paling mendasar adalah tidak mengedepankan pendekatan psikologi behavioural yang berfokus pada stimulus respon. Dalam tataran sekolah sepertinya butuh waktu karena sekolah sering mengadakan kegiatan yang berfokus pembiasaan, sering kali dilakukan dengan dasar “pertama dipaksa, akhirnya terbiasa.” Hal tersebut sebenarnya mengabaikan fakta tiap anak secara kognisi dan emosi berbeda-beda, atau bahwa semua memiliki kodratnya sendiri-sendiri.


Jika berdasar pada apa yang dipelajari disini, berarti di level kelas yang bisa saya kontrol, saya bisa menawarkan nilai-nilai kebajikan apa yang mereka inginkan untuk jadi kesepakatan kelas dan menjadikannya semua sebagai pedoman. 


Pengalaman

Ketika mencoba menerapkan semua itu, seperti yang sudah saya sebutkan di depan, ternyata nilai kebajikan yang murid pilih kadang berbeda dengan yang saya inginkan. Misal, saya mengusulkan nilai kebajikan untuk selalu memakai masker. Walau bagi saya hal itu adalah baik, tapi lebih dari 50 persen warga kelas tidak setuju memasukkannya ke keyakinan kelas. 


Iya, dunia berkualitas mereka beda dengan saya. Tentu saja saya tidak boleh memaksakan kehendak dan harus fokus membangun koneksi yang lebih baik lagi. Bagi saya memakai masker adalah pemenuhan kebutuhan survival, bagi mereka tidak. 


Nilai kebajikan yang coba disepakati sebagai keyakinan kelas.

Perasaan

Sulit untuk mendeskripsikan perasaan saya saat itu terjadi. Saya tidak kecewa, tapi tidak juga bahagia. Cuma saya tahu itu bakal terjadi. Saya menghormati pandangan mereka. 

Posisi sebagian besar dari mereka memang belum ada motivasi internal untuk memakai masker. Saya masih menjadi stimulus bagi mereka untuk memakai masker. Ketika ada saya, mereka sungkan dan lalu memakai masker. Ketika tidak ada, mereka melepasnya. Kadang ketika ada saya pun tetap tidak memakai masker, baru setelah saya tanya dia akan mencari dan memakai maskernya.


Perilaku mereka juga masih banyak terpengaruh lingkungan sekolah dan rumah, baik itu guru, tetangga, orang tua, teman, atau saudara yang jarang memakai masker. Semua itu motivasi eksternal bagi mereka.


Apa yang harus dilakukan

Hal yang harus diperhatikan dan dilakukan adalah bahwa menyadari bahwa manusia itu kompleks dan terbentuknya perilaku yang konsisten butuh waktu yang panjang. Tidak bisa berharap satu kali penerapan segitiga restitusi lalu selesai. Ini semua proses, ini aemua perjalanan. Konsisten dan istikhomah menjalankan semua ini adalah kuncinya.


Apa yang pernah saya lakukan 

Jujur sebelum belajar ini saya pernah berada di posisi penghukum, pembuat rasa bersalah, pemantau, teman, dan manajer. Saya lakukan itu selama ini posisi penghukum saya lakukan ketika setelah memakai pendekatan posisi lainnya perubahan perilaku tidak terjadi.


Ilustrasi penerapan segitiga restitusi dengan siswa.

Apa yang sekarang saya lakukan

Sebelum mempelajari modul ini ketika di kelas saya lebih sering berinteraksi sebagai pemantau dan teman, jika ada perilaku negatif yang terjadi berulang kali dan perlu dintervensi maka saya menjadi posisi penghukum. Ketika itu saya lakukan yang saya pikirkan dan rasakan adalah anak tersebut tidak paham apa yang dia lakukan. Dia tidak tahu benar atau salah, terutama tidak paham akan konsekuensi tindakannya itu bagi dirinya di masa depan. Jujur kadang merasa jengkel karena dia tidak paham maksud saya, tapi saya juga mengerti posisi dia, sudut pandang dia. Agar dia paham konsekuensi di depan dan sudut pandang saya, biasanya saya sampaikan semuanya agar dia berpikir dan menyikapinya.  


Setelah mempelajari modul ini saya lebih menghindari posisi pembuat rasa bersalah dan penghukum dan fokus sebagai manajer dengan selalu menggunakan segitiga restitusi untuk membantu anak mengatasi dan mengkoreksi perilakunya sendiri. Hal yang saya ingatkan ke diri sendiri adalah sabar menghadapi proses anak dan lebih fokus di stabilisasi identitas dan validasi tindakan yang salah agar benar-benar mengerti posisi anak. Saat itu terjadi, kadang saya merasa terkejut karena tidak menyangka, kadang sedih mendengar ceritanya, tapi intinya saya jadi makin paham akan motivasi mereka dan tahu bahwa mereka pada dasarnya juga berjuang dan yang mereka lakukan saat itu adalah yang mereka bisa. Tugas saya selanjutnya adalah membantunya melihat alternatif-alternatif lain.


Perbedaan dari semua posisi, terutama penghukum dan manajer adalah ketika penghukum lebih fokus mengenakan sesuatu yang tidak disukai ke anak sebagai pemicu agar perilaku yang tidak diinginkan jadi hilang, sedangkan manajer berfokus membantu anak menemukan solusi masalah anak sehingga kedepannya anak bisa melakukannya sendiri, menjadi mandiri. Dalam posisi penghukum guru menjadi motivasi eksternalnya, sedangakan saat manjadi manajer, murid berubah karena motivasi internal.


Taken from https://rebeccagrayblog.files.wordpress.com/2013/09/triangle-mini-cards.jpg



Penerapan segitiga restitusi

Saya mengenal segitiga restitusi secara mendalam di modul ini. Berarti baru saja dua minggu terakhir. Akan tetapi, jika melihat ke belakang, saya sepertinya juga sudah melakukannya. Dari tiga langkah yang ada, tahap stabilisasi identitas dan menanyakan keyakinan mungkin yang tak terlalu panjang, biasanya waktu lebih banyak saya gunakan untuk tahap validasi tindakan yang salah.


Ketika ada murid yang mengalami masalah, misal terakhir kali ada murid yang sering tidak masuk baik alpa, ijin, atau sakit, saya mengajak dia berbicara berdua. Di awal saya minta dia cerita semuanya. Kenapa tidak masuk dan apa penyebabnya. Saya fokus mencari background masalahnya. Biasanya saya juga bertanya kondisi keluarganya. Intinya saya ingin tahu apakah sering tidak masuk sekolah adalah solusi masalah bagi dia. Jika itu solusi masalah, maka masalah dia apa. Setelah ketemu apa masalahnya, baru saya bantu dia.


Dalam tahapan peristiwa terakhir itu, stabilisasi identitas seperti tidak dilakukan di awak, tapi di akhir saya coba mengkonfirmasi bahwa tujuan dia saya ajak bicara bukanlah untuk memarahi atau menghukum tapi mencari tahu penyebab dan terutama membantu.


Penutup

Penciptaan budaya positif baik di kelas ataupun di sekolah, menurut saya, harus kembali mengingat bahwa yang dihadapi adalah manusia dan manusia itu kompleks dan berbeda-beda, tak hanya pada usia, minat, bakat, dan kompetensi, tapi juga tahap perkembangannya. Dalam proses menentukan perilaku manusia dan usahanya membentuk budaya positif, semuanya selalui dari proses belajar. Kata belajar ini tidak berarti sempit seperti membaca buku atau kegiatan yang ada di kelas, tapi termasuk didalamnya proses menerima pengaruh baik dari lingkungan sekitarnya, pengetahuan, biologis, ataupun lainnya.

Bayangkan saja, pengalaman -> proses belajar -> Perubahan perilaku 


Penting untuk menyadari bahwa proses belajar tiap murid akan berbeda dan tak bisa berharap perlakukan/pengalaman yang sama akan menghasilkan perubahan perilaku yang sama.


Oleh karenanya, guru juga harus menyikapinya dengan positif dan bersikap adaptif menghadapi dinamika yang ada. Bagi saya pribadi, penting juga untuk menggali pandangan Dr. William Glasser dan Diane Gossen dari sumber pertama.


Guru juga paling tidak harus paham prinsip dasar classical conditioning, yang mungkin mendasari ketakutan dan ketidaksukaan murid pada mata pelajaran tertentu, karena apa yang mereka alami di masa lalu, misal setiap pelajaran itu selalu diikuti dengan kejadian yang tak menyenangkan (dimarahi atau lainnya), sehingga mata pelajaran yang sebenarnya netral atau bahkan menyenangkan menjadi subyek yang dihindari. Pemahaman akan konsep itu bisa mencegah yang serupa terjadi terutama pada anak yang memang perilakunya banyak muncul dari stimulus respon.


Karena tujuannya memunculkan motivasi intrinsik, guru harus paham juga bahwa praktik pemberian punishment dan reinforcment (baik positive atau negatif) sebagai wujud penerapan operant conditioning yang banyak diterapkan di dunia pendidikan juga harus sedikit demi sedikit ditinggalkan terutama ketika anak sudah mulai masuk ke masa remaja. 


Sekali-lagi tujuan guru secara umum adalah agar bisa membantu anak menjadi pribadi yang mandiri, merdeka, dan bertanggung jawab atas segala perilaku dan sikapnya, yang pada akhirnya dapat menciptakan lingkungan yang mendorong perkembangan, aman secara mental dan fisik, serta nyaman.



Rangkuman kegiatan pengembangan diri yang sederhana, konkret dan rutin yang berkaitan dengan nilai dan peran Guru penggerak.

via IFTTT